kesedihan adalah karunia

Ia menatapku lewat tatap matanya yang bening nan teduh. Seulas senyum ia berikan dan tampaknya itu untuk menentramkan kesedihan di atas kegundahanku.

Setiap kata darinya jatuh  di lantai hatiku. Bagai embun yang menitis _sejuknya membasahi hingga ke tepian hati; bergelombang beriak-riak kecil lalu pecah menjadi sebuah senyuman di bibirku.

Dengar.

Dengarlah apa yang dibisikannya kepadaku.

“Bila engkau bersedih karena kekecewaan, itu adalah kebaikan dariNya agar engkau dapat lebih kuat menghadapi keadaan yang lebih berat.

“Bila engkau bersedih karena ketidakpuasan, itu adalah kebaikan dariNya agar engkau bersegera beranjak dari tempatmu kini menuju taman yang lebih indah dan tinggi.

“Bila engkau bersedih karena seseorang telah merendahkanmu, itu adalah kebaikan dariNya agar engkau percaya bahwa engkau dapat lebih hebat dari dirimu saat ini, lebih hebat dari dugaanmu sendiri.

“Bila engkau bersedih karena penderitaan, itu adalah kebaikan dariNya agar engkau tak menunda waktu untuk bersegera menggunakan kemampuanmu dalam mendatangkan kebahagiaan yang selalu kau anggap ada di masa depan.

“Bila engkau bersedih karena kegagalan, itu adalah kebaikan dariNya agar engkau menghargai bahwa ada pertemuan antara harapan dengan waktu.

“Bila engkau bersedih karena jauhnya impianmu dengan tempat kakimu berpijak kini, itu adalah kebaikan dariNya agar engkau merentangkan jembatan kehendak yang kuat dari tepi hatimu hingga tepi ujung impian itu.

“Bila engkau bersedih karena kesalahan yang telah engkau lakukan, itu adalah kebaikan dariNya agar engkau memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri.

” . . .. . . . . . .

“Bila engkau bersedih karena dosa-dosa, itu adalah kebaikan dariNya agar engkau mengizinkan dirimu untuk kembali ke pangkuanNya.

“Nanda . . .

“Tuhan kita begitu baik. Hanya itu yang dapat kukatakan padamu.

“Sayangku . . .tetapi bila engkau masih bersedih, bolehkah Ibunda memelukmu? Atau jika kau mau peluklah Ibunda. Mudah-mudahan kasih sayang Ibunda mengaliri hatimu hingga mampu menghilangkan sedihmu.

“Peluklah Ibunda selama engkau mau . .  .”

Itulah pantun cinta yang berakhir dalam kedamaian.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s